Uncategorized

JURNAL DWI MINGGUAN KEDUA

 

Eko Krisnaningsih, S.Pd

Assalamualaikum wr wb.

Kegiatan Calon Guru Penggerak tidak terasa sudah pada dwi mingguan kedua. Banyak sekali kegaiatan yang dilaksanakan, semua menyenangkan dan menambah pengalaman serta inspirasi dari Instruktur, Fasilisator, Pengajar Praktek dan teman – teman CGP yang lain.

Modul  1.2 mempelajari tentang Nilai dan Peran Guru Penggerak

Fact  Feelings  Findings  Future

  1. Peristiwa

Setelah menyelesaikan Modul 1.1 tentang Filosofis Pendidikan Ki Hadjar Dewantara, tibalah saatnya untuk belajar Modul 1.2. Pembelajaran yang saya dapatkan sama halnya seperti modul 1.1 yaitu pembelajaran via daring melalui LMS, pembelajaran interaktif melalui Google Meet saat Vicon bersama Fasilitator  Bapak Drs. Agus Siswanto, M.Pd dan Instruktur Bapak Amin Hidayat, M.Pd serta pembelajaran luring melalui pendampingan individu oleh Ibu Pengajar Praktik yaitu Bapak Ihsan Zaini, M.Pd.

Forum Komunikasi Merupakan sarana komunikasi antara fasilitator dan peserta selama mempelajari Modul 1.2 Nilai dan Peran Guru Penggerak dilaksanakan secara luring.

Mulai diri modul 1.2 Membuat “Trapesium Usia”, Refleksi memaparkan pada usia berapa saya mengalami peristiwa penting dimasa sekolah, baik positif dan negatif saat berada di bangku sekolah. Selain itu pada kedua peristiwa tersebut menyebutkan emosi yang saya rasakan dan aktor yang terlibat dan dampak emosi yang dirasakan dan mempengaruhi.

Forum Diskusi Eksplorasi Konsep – Modul 1.2 Saya mempelajari materi tentang Menyebutkan salah satu nilai guru penggerak yang sudah dilakukan serta menyebutkan 10 Nilai dan Peran Guru Penggerak secara mandiri melalui LMS. Setelah kegiatan yang mengimplementasikan peran sebagai Guru Penggerak dan memberi membaca dan memahami materi, saya memberikan umpan balik pada komentar hasil pekerjaan 2 teman CGP lainnya.

Ruang Kolaborasi – dilaksanakan hari Jumat 11 November 2022, pukul 12.30- 14.45 Berdiskusi mengenai nilai-nilai dan peran  Kelas dibagi 3 kelompok untuk merancang satu kegiatan yang sesuai dengan suatu peran Guru Penggerak yang berbasis kekuatan nilai setiap anggota. Membuat surat untuk rekan kelompok di Ruang Kolaborasi yang mempunyai nilai Guru Penggerak yang masih perlu dikembangkan.

Ruang Kolaborasi – Presentasi dilaksanakan hari Senin tanggal 14 November 2022 pukul 15.15-17.30 . Presentasi hasil diskusi dari tiap kelompok. guru penggerak, saling memberi masukan dan pertanyaan .
                                                                                             

Tugas Demonstrasi Kontekstual Membuat narasi tentang kegiatan-kegiatan yang sudah dilakukan jika saya sudah 3 tahun lulus dari Program Pendidikan Guru Penggerak. Terdapat pada youtube saya dengan https://studio.youtube.com/video/H1Kh3e8uA5k/edit

Tugas Koneksi Antar Materi Koneksi antar materi modul 1.1 dengan modul 1.2 terdapat hubungan yang saling mempengaruhi dan bagaimana CGP menanggapinya.

Tugas Elaborasi Pemahaman : Tugas ini diminta untuk menuangkan berbagai pertanyaan mengenai Nilai dan Peran Guru Penggerak yang masih ingin digali lebih lanjut pada aktivitas ini

Elaborasi Pemahaman Dilaksanakan secara interaktif via Google Meet pada hari Jumat tanggal 18 November 2022. Saya belajar di kelas besar dengan bimbingan Instruktur Bapak Amin Hidayat, M.Pd, Bapak Drs. Agus Siswanto, M.Pd, Pengajar Praktik Bapak Ihsan Zaini, M.Pd.  dan Calon Guru  Penggerak.

Pendampingan Individu Kegiatan CGP yang dilaksanakan secara tatap muka di sekolahnya masing-masing oleh pengajar praktik. Kegiatan yang saya laksanakan pada hari Jumat tanggal 18 November 2022. Bapak Ihsan Zaini, M.Pd selaku Pengajar Praktik berkunjung ke SMP Negeri 2 Weru untuk sharing dukungan atau hambatan yang saya hadapi serta diberikan motivasi agar bisa menjalani Pendidikan Guru Penggerak sampai selesai.

 

 

2. Perasaan

Selama pengerjaan modul 1.2  saya rasakan ketika saya mempelajari modul ini pada saat eksplorasi konsep dipikiran saya materi yang begitu banyak membuat saya sulit memahami. Perlu beberapa kali saya membaca untuk mendapatkan pemahaman yang saya inginkan. Dengan banyak berdiskusi pada  ruang kolaborasi dan semakin akrabnya teman antar CGP sehingga tidak sungkan lagi bertanya tentang hal yang belum saya pahami. Saya berusaha mengerjakan tugas CGP secara daring via LMS maupun tugas tugas lain bisa terselesaikan dengan baik dan bersemangat. Inilah perasaan yang saya alami selama mengikuti pembelajaran Modul 1.2

  1. Pelajaran

Setelah mempelajari modul 1.2 mengajarkan saya bahwa untuk menjadi guru harus mempunyai nilai nilai dan peran sebagai seorang guru, supaya bisa menghasilkan murid yang berkualitas dan menjadi teladan yang baik bagi muridnya, perlu kesabaran, dan kedisiplinan dalam mengerjakan tugas. Nilai – nilai yang ada pada guru penggerak antara lain mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid. Mandiri adalah kesiapan seseorang untuk bergerak atau melakukan sesuatu atas dasar keinginan sendiri. Reflektif adalah kemampuan untuk menilai diri sendiri menggabungkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki. Kolaboratif adalah kemampuan untuk bekerja sama, yang disertai dengan tanggung jawab individu dan kemampuan berkomunikasi antar individu. Inovatif adalah kemampuan untuk membuat atau memodifikasi hal hal baru yang bermanfaat. Berpihak pada murid adalah nilai guru penggerak yang menempatkan murid sebagai subyek guru sebagai pamong. Peran guru penggerak antara lain menjadi pemimpin pembelajaran, menjadi coach bagi guru lain, mendorong kolaborasi, mewujudkan kepemimpinan murid dan menggerakan komunitas praktisi.

                       

 

  1. Penerapan ke depan

    Saya harus lebih rajin dalam mengerjakan tugas, tidak menunda tugas yang telah menjadi tanggung jawab saya. Sehingga saling mengingatkan antar teman CGP agar tidak ketinggalan dalam mengumpulkan tugas di LMS ataupun lainnya. Selain itu saya harus menjadi coach bagi rekan guru untuk bersama-sama membangun kemajuan sekolah dengan cara melakukan pengimbasan tentang praktik yang baik. Pengembangan diri yang sederhana, konkret dan rutin yang dapat saya lakukan sendiri dari sekarang, untuk membantu memperkuat nilai-nilai dan peran saya sebagai Guru Penggerak antara lain adalah saya ingin memaksimalkan peran saya dalam melaksanakan pembelajaran yang berpihak pada siswa, melakukan inovasi, dalam melaksanakan inovasi ini saya mengadopsi cara amati tiru dan modifikasi. Saya ingin membuat lagu untuk memudahkan anak anak dalam mempelajari materi di sekolah. Kemudian untuk mendorong kepemimpinan siswa saya akan mencoba menerapkan beberapa ide agar peserta didik memiliki kepercayaan diri yang lebih baik dengan memberi kesempatan untuk mempresentasikan hasil kerja, berperan pada kelompok dan menjadi tutor sebaya.

                

 

 

 EKO KRISNANINGSIH, S.Pd

 

Jurnal refleksi dwimingguan adalah sebuah tulisan tentang refleksi diri setelah mengikuti sebuah kegiatan pelatihan (upgrading skill) yang ditulis secara rutin setiap dua mingguan. Ini sudah menjadi kewajiban yang harus dilakukan oleh para CGP (Calon Guru Penggerak) untuk membuatnya. Jadi kali ini saya akan menulis mengenai refleksi saya mengenai kegiatan-kegiatan pelatihan yang sudah kami lalui, khususnya pada modul 1.1 Tentang Filosofi Pemikiran Ki Hajar Dewantara. Dalam menulis jurnal refleksi ini saya berpedoman pada model  4F, yang diprakarsai oleh Dr. Roger Greenaway, yang mencakup:  1) Fact; 2) Feeling; 3) Findings; dan 4) Future.

  1. FACT

Alhamdulillahirabbil ‘aalamiin  saya ucapkan terimakasih kepada Allah SWT karena atas karunia-Nya dinyatakan lolos untuk mengikuti Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 7 melaksanakan beberapa tahap seleksi. Pada tanggal 20 Oktober 2022 CGP Angkatan 7 resmi dibuka oleh Kemendikbudristek yaitu Bapak Nadiem Anwar Makarim B.A. M.B.A dan Dirjen GTK, Prof. DR. Nunuk Suryani, M.Pd melalui zoom dan youtube yang diikuti CGP Angkatan 7 se Indonesia.

 

                                         

Pada tanggal 23 Oktober 2022 diadakan Lokakarya Orientasi yang dilakukan secara luring di SMAN 3 Sukoharjo, dari pukul 08.00 s.d. 16.00 WIB. Saya berada diruang E yang didampingi oleh 3 Pengajar Praktik Bapak Ehsan Zaini, Bapak Hendri Setiyawan dan Bapak Paryanta yaitu Dalam kegiatan ini diundang juga Pengawas dan Kepala Sekolah tempat kami mengajar. Dengan diikutsertakannya Kepala sekolah dalam lokakarya tersebut diharapkan dapat memberikan bimbingan, arahan, dan motivasi sehingga kami dapat melaksanakan Pendidikan Guru Penggerak ini dengan baik. Selanjutnya kegiatan lokakarya orientasi lebih banyak berinteraksi dengan Pengajar Praktik dan teman-teman sekelompok yang terdiri dari dan 21 CGP.

   

Pada tanggal 21 Oktober 2022 seluruh CGP diwajibkan mengerjakan pretest di LMS masing-masing. Setelah itu dilanjutkan dengan mempelajari modul 1.1. yaitu Mulai dari diri, eksplorasi konsep. Pada bagian ini, kami sudah mulai mengerjakan tugas dengan mengisi LMS yang disediakan oleh penyelenggara PPGP.  Disini kami menjawab pertanyaan-pertanyaan refleksi kritis, diantaranya: (1) Apa yang ada Anda ketahui tentang pemikiran Ki Hajar Dewantara (KHD) mengenai pendidikan dan pengajaran?; (2) Apa relevansi pemikiran KHD dengan konteks pendidikan Indonesia saat ini dan konteks pendidikan di sekolah Anda secara khusus?; (3) Apakah Anda merasa sudah melaksanakan pemikiran KHD?. Dan juga pertanyaan mengenai ‘Harapan dan Ekspektasi’ kami sebagai calon guru penggerak. Eksplorasi konsep di forum diskusi dengan fasilitator, kolaborasi di ruang kolaborasi dan setiap CGP berkolaborasi bersama kelompoknya masing-masing untuk mempresentasikan hasil menemukenali nilai-nilai luhur kearifan budaya dan memberi umpan balik, dengan didampingi oleh fasilitator yaitu Bapak Agus Siswanto dan Pengajar Praktik serta yang terus memberikan arahan, informasi dan motivasi kepada kami agar selalu bersemangat dalam menyelesaikan tugas LMS.

 

            

 

Dengan jadwal yang telah disusun sebelumnya, kegiatan demi kegiatan telah saya lewati. Pengalaman pertama saya membuat sebuah karya berupa Demonstrasi Konstektual tentang filosofis Ki Hajar Dewantara, Pendidikan Yang Berpihak pada Murid, yang diunggah di youtube.  Kemudian saya mengikuti Elaborasi Pemahaman bersama Giyanto, S.Pd.,M.Pd, melalui G-Meet yang memberikan banyak bekal kepada saya tentang dasar-dasar pemikiran Ki Hajar Dewantara, refleksi dan relevansinya dengan pendidikan di abad 21 ini.  Kemudian yang kedua kalinya saya mengunggah tugas modul Koneksi Antar Materi, Kesimpulan dan Refleksi pemikiran Ki Hajar dewantara.

   

    2. FEELING

Feeling secara harfiah bermakna perasaan.  Selama kurang lebih dua minggu mengikuti program PGP ini, banyak sekali hal yang saya rasakan antara lain haru, senang, cemas, bahagia, semua bercampur aduk dengan keinginan dan tekad yang kuat untuk dapat menyelesaikan tugas dalam Program Calon Guru Penggerak ini. Dengan kegiatan ini kami dipertemukan dengan orang-orang hebat dan pilihan, karena untuk menjadi bagian dari CGP ini orang harus melewati serangkaian kegiatan, ujian dan lain sebagainya yang tidak cukup mudah. Mereka para orang hebat tersebut adalah, para fasilitator, pengajar praktik dan juga semua rekan-rekan CGP.

Dari keseluruhan rangkaian modul, tagihan dan tugas-tugas yang ada di dalam LMS ini membuat saya menyadari bahwa apa yang saya miliki dan pahami tentang Pendidikan ini masih sangat jauh dari apa yang diharapkan dengan tujuan konsep pemikiran Ki Hajar Dewantara. Seperti kata pepatah semakin banyak membaca semakin kita tidak tahu apa-apa, setelah banyak membaca tentang konsep pembelajaran betapa Ki Hajar Dewantara menerangkan bahwa kita harus memanusiakan manusia, memerdekakan manusia, kita harus menuntun sehingga murid dapat bertumbuh dan berkembang secara optimal dengan kodrat alam yang dimiliki sehingga para siswa kelak dapat mencapai kebahagiaan yang setinggi-tinggi nya, baik sebagai pribadi maupun sebagai anggota masyarakat, namun juga tetap selalu membuka mata untuk setiap hal positif di luaran sana (kodrat zaman) sehingga anak didik kita dapat merasakan kebahagiaan dan keselamatan sejati.

    

      3. FINDINGS (Pembelajaran)

Dalam pembelajaran ini saya menemukan hal-hal yang kurang saya pahami sebelumnya yaitu tentang filosofis Ki Hajar Dewantara. Saya mendapat ilmu-ilmu baru yang sangat saya perlukan untuk meningkatkan kompetensi saya sebagai seorang pendidik. Konsep pemikiran Ki Hajar Dewantara  dalam dunia pendidikan yaitu:

  • Syarat-Syarat Pengetahuan

Pendidikan yang teratur yaitu pendidikan yang berdasarkan pada pengetahuan, yang dinamakan “Ilmu Pendidikan”. Ilmu ini tidak berdiri sendiri, akan tetapi masih berhubungan ilmu-ilmu lainnya, yang dinamakan ilmu syarat-syarat pendidikan (hulpwetenschappen), yang terbagi menjajdi 5 jenis, yaitu: 1. Ilmu hidup batin manusia (ilmu jiwa, psychologie); 2. Ilmu hidup jasmani manusia (fysiologie); 3. Ilmu keadaan atau kesopanan (etika atau moral); 4. Ilmu keindahan atau ketertiban-lahir (estetika); 5. Ilmu tambo Pendidikan (ikhtisar cara-cara Pendidikan).

  • Peralatan Pendidikan

Yang dimaksud dengan ‘peralatan’ adalah alat-alat pokok, yakni caracara mendidik. Perlu diketahui bahwa cara-cara mendidik beragam banyaknya, akan tetapi pada dasarnya cara tersebut dapat dibagi seperti berikut: 1. Memberi contoh (voorbeld); 2. Pembiasaan (pakulinan, gewoontervorming) 3. Pengajaran (wulang-wuruk, leering) 4. Perintah, paksaan dan hukuman (regearing en tucht); 5. Tindakan (laku, zelfberheersching, zelfdiscipline); 6. Pengalaman lahir dan batin (nglakoni, ngrasa, beleving).

  • Tentang Akulturasi

Soal akulturasi yang telah kita masukan dalam rangkain asas-asas ke-Tamansiswaan-an. Yaitu “Asas Tri-con” yang mengajarkan, bahwa di dalam pertukaran kebudayaan dengan dunia luar harus kontinuitet dengan alam kebudayaannya sendiri, lalu konvergensi dengan kebudayaan-kebudayaan lain yang ada, dan akhirnya jika kita sudah bersatu dalam alam universal, kita bersama mewujudkan persatuan dunia dan manusia yang konsentris. Konsentris berarti bertitik pusat satu dengan alam-alam kebudayaan sedunia, tetapi masih memiliki garis lingkaran sendiri-sendiri. Inilah suatu bentuk dari sifat “Bhineka Tunggal Ika”.

Dan tentu saja, yang paling fenomenal adalah reaktualisasi konsep “Ing ngarsa sung tuladha, Ing madya mangun karsa, dan Tut wuri handayani”. Yang memiliki makna: Di depan atau sebagai guru mampu memberikan contoh dan teladan yang baik, di tengah-tengah murid mampu membangun kehendak, keinginan, dan atau ide, serta jika dibelakang mereka (para murid) maka kita bisa memberikan tenaga dan dorongan kepada kemajuan mereka. Sebagai seorang pendidik saya harus menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat Bahwa anak memiliki kodrat merdeka, merdeka batin adalah pendidikan sedangkan merdeka lahir adalah pengajaran. Oleh karena itu saya harus memberikan kemerdekaan kepada anak-anak untuk menyelesaikan tugas-tugasnya sesuai dengan minat, bakat , dan kreatifitasnya sebab manusia merdeka adalah manusia yang hidupnya tidak tergantung pada orang lain, akan tetapi bersandar atas kekuatan sendiri.

           

      4. Future

Dalam bahasa Inggris, future bermakna masa yang akan datang. Kedepannya, saya akan berusaha untuk mengaplikasikannya konsep-konsep Ki Hajar Dewantara ini secara langsung. Mulai dari diri sendiri, kemudian ke kelas-kelas yang saya ajar, dan kepada keseluruhan murid di sekolah saya. Rencana yang disusun yaitu 1) selalu refleksi dan intropeksi diri sebagai pendidik; 2) melaksanakan pembelajaran yang berpihak pada siswa; 3) berperan sebagai pamong yang siap ngemong dalam pembelajaran; dan 4) membuat suasana pembelajaran yang menyenangkan.

Saya akan melakukan hal terbaik dalam proses pembelajaran yang saya lakukan di kelas, agar tujuan pendidikan bisa tercapai dengan maksimal. Hal-hal yang tidak sejalan dengan pemikiran filosofis Ki Hajar Dewantara yang harus saya benahi, diantaranya pembelajaran yang berpusat pada guru harus segera diganti dengan pembelajaran yang berpusat pada murid, agar tercipta interaktif yang menyenangkan didalam kelas. Memberi kebebasan kepada anak-anak untuk menggali potensi yang dimilikinya harus terjadi dalam proses pembelajaran agar mereka menemukan jati dirinya sehingga menjadi manusia seutuhnya. Menuntun peserta didik harus selaras dengan kodrat alam dan kodrat zaman yang dihadapinya sehingga bisa berdampak dan  mempermudah mereka dalam mengatasi persoalan hidupnya di masa kini ataupun masa mendatang.

Kita sebagai pendidik harus terus belajar karena Ilmu pengetahuan dinamis dan terus berkembang, Ayo bapak guru hebat kita harus senantiasa belajar dan belajar lagi untuk menjadi guru yang hebat agar bisa menuntun anak didik mewujudkan profil pelajar pancasila demi Indonesia Maju.

 

 

 

BUDIDAYA LIDAH BUAYA (ALOEVERA)

 

 

SEJARAH LIDAH BUAYA

Lidah Buaya (Aloe vera) telah dipergunakan untuk banyak keperluan selama berabad-abad. Kurang lebih 4000 tahun yang lalu sampai sekarang lidah buaya sangat dikenal khasiatnya karena pada pelepahnya terdapat berbagai macam kandungan nutrisi. Lidah buaya diduga berasal dari kepulauan Canary di sebelah barat Afrika. Telah dikenal sebagai obat dan kosmetika sejak berabad-abad silam. Hal ini tercatat dalam Egyptian Book of Remedies. Di dalam buku tersebut diceritakan bahwa pada zaman Cleopatra, lidah buaya dimanfaatkan untuk bahan komestika dan pelembab kulit. Orang Yunani pada awal tahun 333 SM telah mengidentifikasi bahwa lidah buaya sebagai tanaman penyembuh segala penyakit.

Menurut Dowling (1985), hanya 3 jenis lidah buaya yang dibudidayakan secara komersil di dunia, yakni: Curacao aloe (Aloe barbadensis Miller), Cape aloe (Aloe ferox Miller), dan Socotrine (Aloe perryl baker). Dari ketiga jenis tersebut yang banyak dimanfaatkan adalah species Aloe barbadensis Miller yang ditemukan oleh Philip Miller. Sedangkan jenis yang banyak dikembangkan di Indonesia adalah Aloe chinensis Baker, yang berasal dari China, tetapi bukan tanaman asli China. Jenis ini di Indonesia sudah ditanam di Kalimantan Barat dan lebih dikenal dengan nama Lidah Buaya Pontianak, yang dideskripsikan oleh Baker pada tahun 1877. Ciri-ciri tanaman ini adalah bunga berwarna oranye, pelepah berwarna hijau muda, pelepah bagian atas agak cekung dan mempunyai totol putih di pelepahnya ketika tanaman masih muda.

Pada tahun 1980 tanaman lidah buaya di Pontianak khususnya di Siantan Hulu, telah dikembangkan dan dibudidayakan. Kemudian pada tahun 1992, lidah buaya mulai dikenalkan kepada masyarakat luas.

Seiring perjalanan waktu, produk lidah buaya mulai banyak dikembangkan menjadi berbagai produk olahan mulai dari minuman, dodol, jelly, kerupuk, roduk kecantikan, dll.

KARAKTERISTIK LIDAH BUAYA

Lidah buaya termasuk suku Liliaceae. Liliaceae diperkirakan meliputi 4.000 jenis tumbuhan, terbagi dalam 240 marga dan dikelompokkan lagi menjadi lebih kurang 12 anak suku. Daerah distribusinya meliputi seluruh dunia. Lidah buaya sendiri mempunyai lebih dari 250 jenis tanaman.

Tanaman lidah buaya dapat tumbuh di daerah kering, seperti Afrika, Asia, dan Amerika. Hal ini disebabkan lidah buaya dapat menutup stomata daun sampai rapat pada musim kemarau untuk menghindari kehilangan air dari daunnya. Lidah buaya juga dapat tumbuh di daerah yang beriklim dingin. Lidah buaya termasuk tanaman yang efisien dalam penggunaan air, karena dari segi fisiologi tumbuhan, tanaman ini termasuk dalam jenis CAM (Crassulance Acid Metabolism) dengan sifat tahan kekeringan. Dalam kondisi gelap terutama malam hari, stomata daun membuka, sehingga uap air dapat masuk. Disebabkan pada malam hari udaranya dingin, uap air tersebut berbentuk embun. Stomata yang membuka pada malam hari memberi keuntungan yakni tidak akan terjadi penguapan air dari tubuh tanaman, sehingga air yang berada di dalam tubuh daunnya dapat dipertahankan. Karenanya tanaman mampu bertahan hidup dalam kondisi yang bagaimanapun keringnya.

 

KANDUNGAN NUTRISI LIDAH BUAYA

Berbagai macam kandungan nutrisi dalam pelepah lidah buaya antara lain adalah:

  • Vitamin, yaitu A, B1, B2, B3, B12, C, E, Choline, Inositol, Folic Acid
  • Mineral, yaitu Calsium, Magnesium, Potasium, Sodium, Iron, Seng, Chromium
  • Enzim, yaitu Amylase, Catalase, Cellulose, Carboxypepilase, Carboxyhelulose, Bradykinase
  • Asam Amino, yaitu Arginin, Aspargin, Aspartat Acid, Analine, Serine, Glutamat, Threonine, Glycine, Phenil alanine, Histidine, Isoliucine

 

BEBERAPA FAEDAH TANAMAN LIDAH BUAYA

Lidah buaya memiliki manfaat pada kesehatan manusia, seperti:

  1. Sebagai anti mikroba melawan bakteri pathogen
  2. Sebagai pembersih tubuh
  3. Sebagai penstabil kadar kolesterol darah
  4. Sebagai pelindung tubuh karena memiliki kandungan antibiotic
  5. Sebagai bahan yang memperlambat penuaan dini
  6. Sebagai bahan anti luka bakar

 

 

HASIL ANALISIS KANDUNGAN KOMPONEN GEL LIDAH BUAYA

(dalam 100 gr bahan)

  • Air : 99,5%
  • Lemak : 0,067%
  • Karbohidrat : 0,043%
  • Vitamin A
  • Vitamin C
  • Total padatan terlarut : 0,49%

BUDIDAYA LIDAH BUAYA

SMP Negeri 2 Weru terletak di Desa Karangwuni, Kecamatan Weru, Kabupaten Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah, Telp. (0273)5331385. Letak sekolah sangat strategis, di tepi jalan raya yang menghubungkan antara Kabupaten Wonogiri dan Kabupaten Klaten, sehingga memungkinkan untuk tumbuh dan berkembang menjadi sekolah kebanggaan Kecamatan Weru karena akses ke sekolah yang didukung jalur transportasi yang sangat mudah dan lancar.

SMP Negeri 2 Weru secara umum cukup memadai, antara lain; Tanah sekolah sepenuhnya milik Negara dengan luas areal 18.000 m dan memiliki lahan kosong yang masih luas untuk dikelola. Pengembangan lidah buaya di SMP Negeri 2 Weru sebenarnya sudah dimulai melalui kegiatan program adiwiyata sekolah.

Budidaya tanaman lidah buaya (Aloe vera) dimulai dengan tahapan persiapan lahan dan penanaman selesai dilaksanakan, langkah selanjutnya adalah melakukan perawatan/pemeliharaan tanaman dengan cara membersihkan gulma pengganggu tanaman dan memotong daun pelepah yang rusak.

Pemupukan lanjutan dapat dilakukan setelah tanaman berumur 3 bulan, terhitung dari saat tanam dengan dosis yang sama. Setelah pemupukan lanjutan pertama selesai kemudian sedikit demi sedikit tanah yang disamping kiri dan kanan tanaman dinaikan untuk menimbun pupuk supaya tidak menguap terkena sinar matahari  atau larut terkena hujan, disamping itu fungsinya adalah membentuk guludan (bedengan). Selanjutnya setiap 3 bulan sekali perlu diberikan pemupukan lanjutan lagi sampai panen. Pada pemupukan lanjutan ke 3, pupuk perlakuan abu dan pupuk kandang tetap diberikan seperti biasa.

Panen tanaman Lidah Buaya dapat dilakukan setelah pelepah mencapai kisaran 0,75-1kg/pelepah atau tanaman telah berumur 10-12 bulan. Panen dapat dilakukan lebih awal dari perkiraan semula apabila bibit yang ditanam lebih besar ukurannya dari ketentuan yang dibutuhkan.

 

Sumber:

https://pertanian.pontianakkota.go.id/produk-unggulan-detil/4-lidah-buaya.html

 

sampah plastik merupakan permasalahan dunia. dalam satu hari saja ratusan sampah plastik digunakan disebuah daerah. berbagai macam metode untuk mengelola sampah plastik selalu digembor-gemborkan. Ecobrick adalah salah satu cara pengelolaan sampah plastik. secara harafiah ecobrick dapat diartikan bata ramah lingkungan. cara membuatnya adalah dengan menyatukan botol-botol plastik yang telah diisi dengan plastik kemasan kemudian diikat menjadi satu dan saling dikaitkan sehingga menjadi sebuah bentuk atau bangun yang diinginkan.

dalam rangka menyiapkan lomba sekolah adiwiyata SMP N 2 Weru mengelola berbagai barang bekas seperti ember bekas cat, ban bekas, dirigen bekas, kaleng susu bekas dan sampah plastik. Sampah plastik ini yang dijadikan ecobrick. bentuk hati adalah yang dipilih untuk dijadikan hiasan taman atau dapat sebagai objek swafoto.

Senin 10 Februari sampai dengan Jumat tanggal 14 Februari 2020 Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sukoharjo menyelenggarakan Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) tingkat SMP/MTs sederajat. Agenda rutin tahunan itu diikuti 2.462 siswa.

Kabag Protokol dan Komunikasi Pimpinan Setda Kabupaten Sukoharjo Joko Nurhadiyanto, Senin (17/2/2020) mengatakan, POPDA tahun ini ada 13 cabang olahraga (cabor). Ketigabelas cabang olahraga tersebut meliputi cabor atletik, panahan, renang, tenis, tenis meja, sepak bola, bola volley, bola basket, sepak takraw, taekwondo, karate dan pencak silat.

Tahun ini SMP 2 Weru berhasil mendapatkan Juara sebagai berikut :

1. Juara 1 lempar cakram putri a.n Anindya Maharani
2. Juara 2 lari 200m putra a.n Fairuz Nadhif Afif S
3. Juara 3 karate komite 40kg a.n Dea Intan Pratiwi
4. Juara 3 lari 400m putri a.n Deviana Najwa Tsaqib
5. Juara 3 tolak peluru putri a.n Anindya Maharani
6. Juara 3 lari estafet 4x100m putra a.n M.Riski Brika P, Enggal Rado, Febriyan dan Fairuz Nadhif Afif S

kemudian penyerahan hadiah dilaksanakan saat upacara benderah hari Senin pada tanggal 02 Maret 2020 oleh Bapak Pandiyanto Camat Kecamatan Weru.

POPDA-Pekan Olahraga Pelajar Daerah

Sebagai kegiatan rutin tahunan, Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) Sukoharjo 2019 ini dibuka secara resmi pada tanggal 12 Februari 2019 di Gedung Olahraga Jombor Sukoharjo. Beberapa tempat digunakan untuk pelaksanaan kegian ini, diantaranya GOR Gelora Sukoharjo untuk lomba atetik, IPHI untuk lomba silat, Kodim Sukoharjo untuk lomba Taekwondo, GOR Putri Pantes untuk lomba Sepak Takrow.

Puluhan peserta SMP/MTS mengikuti kegiatan ini, SMP 2 Weru menjadi salah satu pesertanya. POPDA kali ini dilaksanakan mulai tanggal 11-13 Februari 2019. Latihan yang disiplin dan usaha yang keras dilalui oleh pewakilan siswa dari SMP N 2 Weru sehingga menghasilkan juara-juara muda yang penuh semangat. berikut adalah daftar kemenangan SMP 2 Weru dalam POPDA Sukoharjo 2019.

Juara 1 Lari 200m a/n Bondan

Juara 2 Tolak Peluru a/n Anin

Juara 2 Lempar Cakram a/n Anin

Juara 3 Lompat Tinggi a/n Naswa

Juara 3 Lempar Cakram a/n Hanang

Juara 3 Karate a/n Dhea Intan

SMP N 2 Weru adalah sekolah yang selalu mendukung dan mengembangkan talenta yang dimiliki setiap peserta didiknya. Dengan cara melatih dan mengikutsertakan dalam setiap pelombaan diharapkan siswa dapat lebih mengembangkan kemampuan dan prestasinya.

 

Sebentuk Hadiah dari Alumni SMP N 2 Weru Lulusan 1988

Guru (bahasa Sanskerta: गुरू yang berarti guru, tetapi arti secara harfiahnya adalah “berat”) adalah seorang pengajar suatu ilmu. Dalam bahasa Indonesia, guru umumnya merujuk pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Jasa dan pengabdian seorang guru dalam mendidik murid-muridnya terkadang tak terlupakan dalam benak seorang siswa.

SMP N 2 Weru termasuk sekolah terfavorit di Kecamatan Weru. Didirikan pada tahun 1985, yang dahulu msih menyewa lahan di daerah Kelurahan Karangwuni. Disinilah angkatan pertama belajar dalam keseharian yang sederhana bukan dalam gedung yang mewah. Bermula dari Hanya berjumlah 3 kelas. Kini SMP N 2 Weru menerima siswa untuk 9 kelas.

Kegigihan dan ketekunan mereka dalam belajar kini membuahkan hasil. Hasil yang tidak menghianati proses tentunya. Mereka dapat lulus dan meraih kehidupan yang sukses dengan berbagai profesinya. Hal ini tak lepas dari dukungan dan peran guru-guru yang mendidiknya di bangku sekolah.

Kini mereka alumni dari lulusan pertama SMP N 2 Weru memberikan sebentuk hadiah untuk sekolah yang telah mengantarkannya kepada kesuksesan tersebut. 2 Unit penyejuk ruangan atau Air Conditioner (AC) mereka serahkan sebagai hadiah untuk SMP N 2 Weru. Tentu hadiah ini tak semata-mata hanya untuk bukti kesuksesan mereka. Terkandung makna lebih dari itu bahwa para alumni ini masih mengingat dan berkeinginan selalu silaturahmi dengan SMP tercintanya. Semoga dengan adanya AC di ruang guru ini semakin menambah semangat Bapak dan Ibu Guru dalam mengabdi mencerdaskan kehidupan bangsa.

Seluruh Bapak/Ibu Guru dan Karyawan/i Sungguh berterimakasih untuk hadiah ini. Doa kami selalu menyertai kalian.

Lomba Tari Mundong

Tari Mundong adalah tari tradisional dari kabupaten Sukoharjo. Tarian ini khas dengan gerakan dan properti jamu gendong sesuai dengan komoditi utama daerah sukoharjo yaitu produsen. Minggu, 13 Januari 2019 Hartono Mall Solo baru mengadakan Lomba  Tari Mundong untuk tingkat SMP. Dilaksanakan pukul 14:00 di atrium Hartono Mall. SMP N 2 Weru menjadi salah satu peserta dalam perlombaan ini. Adalah ibu Sundari, S.Sn. yang menjadi pembimbing dan pelatih untuk mengikuti acara lomba tari mundong ini. Segala usaha keras dan semangat tak menghianati hasil. Peringkat 2 berhasil diraih oleh SMP N 2 Weru menjadi pembuka prestasi diawal tahun 2019. Dengan memperoleh hadiah berupa Tropy, Piagam penghargaan dan uang pembinaan serta voucher belanja.

HUT PGRI atau Hari Guru Nasional (HGN) yang diperingati setiap tanggal 25 November, pada tahun 2018 ini jatuh pada hari Minggu. Maka sebagian besar instansi memperingati dengan melaksanakan upacara pada hari senin tanggal 26 November 2018, termasuk SMP N 2 Weru. Pelaksanaan upacara ini berjalan lancar dan khidmad.

Ada yang berbeda dengan upacara kali ini, yaitu seluruh petugas upacara diperankan oleh Bapak-Ibu Guru dan Karyawan dari SMP N 2 Weru. Dimulai pukul 07:00 barisan siswa sudah siap di lapangan upacara. Tegas dan berwibawa komandan upacara menyiapkan seluruh barisan. Deretan paduan suara membawakan 3 lagu kebangsaan, mars PGRI, dan mars SMP N 2 Weru. Sang Saka merah putih berkibar gagah diatas tiang berpadu dengan cuaca yang cerah pagi ini.

Pembina upacara membacakan sambutan dari menteri pendidikan dan kebudayaan Muhadjir Effendy, yang mengangkat tema HGN 2018 yaitu “Guru sebagai Penggerak Perubahan di era Revolusi Industri 4.0”. Suasana berubah menjadi mengharu ketika lagu terimakasih guru digaungkan dan sejumlah perwakilan siswa menyerahkan beberapa souvenir dan diiringi rangkaian kata-kata ungkapan terimakasih mereka untuk semua guru yang dengan sabar mendidik.

Upacara selesai sekitar pukul 08:00 dilanjutkan dengan acara syukuran potong tumpeng dan makan bersama.